Kamis, 01 November 2012

ANALISIS KEBUTUHAN ANAK USIA DINI



ANALISIS KEBUTUHAN ANAK USIA DINI
(Mengenali Perkembangan Anak)

Sebagian orang berpendapat bahwa mengajar di Sekolah Minggu bukanlah pekerjaan yang sukar. Anggapan seperti inilah yang sering menjadi penyebab kegagalan dalam mengajar.
Karena disamping persiapan mengajar yang matang, seorang Guru Sekolah Minggu dituntut untuk memahami/memperhatikan perkembangan Psikologi Anak berdasarkan usianya. Hal ini akan berpengaruh pada tehnik mengajar yang harus digunakan sesuai dengan perkembangan usia mereka.
Dari berbagai ahli yang menyusun tentang tingkat perkembangan anak, ada dua model yang sangat berpengaruh dalam pengajaran di Sekolah Minggu.
Dengan mempertimbangkan batasan umum Sekolah Minggu, maka dalam pembahasan inipun dibatasi sampai pada usia pra-remaja dengan perkembangan normal.
Perkembangan KOGNITIF ANAK
Menurut PIAGET perkembangan ini dibagi dalam 4 tahap:
1.    Sensori Motor (usia 0-2 tahun)
Dalam tahap ini perkembangan panca indra sangat berpengaruh dalam diri anak.
Keinginan terbesarnya adalah keinginan untuk menyentuh/memegang, karena didorong oleh keinginan untuk mengetahui reaksi dari perbuatannya.
Dalam usia ini mereka belum mengerti akan motivasi dan senjata terbesarnya adalah 'menangis'.
Menyampaikan cerita/berita Injil pada anak usia ini tidak dapat hanya sekedar dengan menggunakan gambar sebagai alat peraga, melainkan harus dengan sesuatu yang bergerak (panggung boneka akan sangat membantu).
2.    Pra-operasional (usia 2-7 tahun)
Pada usia ini anak menjadi 'egosentris', sehingga berkesan 'pelit', karena ia tidak bisa melihat dari sudut pandang orang lain. Anak tersebut juga memiliki kecenderungan untuk meniru orang di sekelilingnya. Meskipun pada saat berusia 6-7 tahun mereka sudah mulai mengerti motivasi, namun mereka tidak mengerti cara berpikir yang sistematis - rumit. Dalam menyampaikan cerita harus ada alat peraga.
3. Operasional Kongkrit (usia 7-11 tahun)
Saat ini anak mulai meninggalkan 'egosentris'-nya dan dapat bermain dalam kelompok dengan aturan kelompok (bekerja sama). Anak sudah dapat dimotivasi dan mengerti hal-hal yang sistematis.
Namun dalam menyampaikan berita Injil harus diperhatikan penggunaan bahasa.
Misalnya: Analogi 'hidup kekal' - diangkat menjadi anak-anak Tuhan dengan konsep keluarga yang mampu mereka pahami.
4. Operasional Formal (usia 11 tahun ke atas)
Pengajaran pada anak pra-remaja ini menjadi sedikit lebih mudah, karena mereka sudah mengerti konsep dan dapat berpikir, baik secara konkrit maupun abstrak, sehingga tidak perlu menggunakan alat peraga.
Namun kesulitan baru yang dihadapi guru adalah harus menyediakan waktu untuk dapat memahami pergumulan yang sedang mereka hadapi ketika memasuki usia pubertas.

Perkembangan PSYCHO-SOSIAL
Menurut ERICK ERICKSON perkembangan Psycho-sosial atau perkembangan jiwa manusia yang dipengaruhi oleh masyarakat dibagi menjadi 8 tahap:
1.    Trust >< Mistrust (usia 0-1 tahun)
Tahap pertama adalah tahap pengembangan rasa percaya diri.
Fokus terletak pada Panca Indera, sehingga mereka sangat memerlukan sentuhan dan pelukan.
2.    Otonomi/Mandiri >< Malu/Ragu-ragu (usia 2-3 tahun)
Tahap ini bisa dikatakan sebagai masa pemberontakan anak atau masa 'nakal'-nya. sebagai contoh langsung yang terlihat adalah mereka akan sering berlari-lari dalam Sekolah Minggu.
Namun kenakalannya itu tidak bisa dicegah begitu saja, karena ini adalah tahap dimana anak sedang mengembangkan kemampuan motorik (fisik) dan mental (kognitif), sehingga yang diperlukan justru mendorong dan memberikan tempat untuk mengembangkan motorik dan mentalnya.
Pada saat ini anak sangat terpengaruh oleh orang-orang penting di sekitarnya (Orang Tua - Guru Sekolah Minggu)
3. Inisiatif >< Rasa Bersalah (usia 4-5 tahun)
Dalam tahap ini anak akan banyak bertanya dalam segala hal, sehingga berkesan cerewet. Pada usia ini juga mereka mengalami pengembangan inisiatif/ide, sampai pada hal-hal yang berbau fantasi.
Mereka sudah lebih bisa tenang dalam mendengarkan Firman Tuhan di Sekolah Minggu.
4. Industri/Rajin >< Inferioriti (usia 6-11 tahun)
Anak usia ini sudah mengerjakan tugas-tugas sekolah - termotivasi untuk belajar. Namun masih memiliki kecenderungan untuk kurang hati-hati dan menuntut perhatian.
Sesuai dengan batasan usia Sekolah Minggu pada umumnya, maka empat tahap berikutnya (Usia diatas 11 tahun) tidak dibahas dalam kolom ini.


ANALISIS KEBUTUHAN ANAK USIA DINI

Kapan, di mana, mengapa dan bagaimana orang tua mengevaluasi kemajuan anak? Jawabannya tentu saja kapan saja, di mana saja dan untuk berbagai alasan. Sebagai orang tua yang memberikan pendidikan langsung pada anak, kita diberi peluang untuk selalu melihat kemajuan atau jika ada stagnansi dalam proses belajar. Apakah itu belajar membaca, menghafal tabel perkalian atau sekedar belajar memasang tali sepatu sendiri.
Langkah Pertama dalam rangka mengevaluasi kemajuan anak adalah dengan melakukan Analisa Kebutuhan anak. Dalam langkah ini kita melakukan observasi secara detail sehingga mengetahui di mana kemampuan anak saat itu. Diharapkan di sini kita dapat mengetahui level dan kemampuan anak. Misalnya dalam mata pelajaran matematika, kita perlu tahu apakah anak sudah dapat kenal angka, berhitung, sudah paham makna perkalian, dan lain-lain.
Langkah Kedua adalah membuat perencanaan berdasarkan analisa di langkah pertama. Di sini kita ajukan pertanyaan, “Apa yang kita inginkan? Tujuan apa yang ingin kita capai?” Dengan mengetahui di mana kemampuan anak saat itu, tujuan akan lebih mudah dijabarkan. Kita tetapkan tujuan berdasarkan kebutuhan anak yang sudah dianalisa dari langkah pertama. Misalnya kita dapat memutuskan bahwa sudah waktunya anak menguasai tabel perkalian, membaca dengan lancar, atau tujuan lain yang ingin dicapai.
Langkah Ketiga adalah memberikan bimbingan pada anak di dalam rangka mencapai tujuan yang ditetapkan pada langkah kedua. Agar anak berada dalam rel yang sudah ditetapkan, bimbingan dari orang tua sangat diperlukan. Bimbingan diberikan pada anak sesuai dengan kebutuhannya.
Langkah Keempat dan terakhir adalah melakukan evaluasi. Kita lihat apakah yang sudah kita lakukan telah memenuhi target yang kita inginkan. Dalam evaluasi ini juga kita melihat apakah ada kemajuan dan apakah kita sudah mendekati target yang kita inginkan. Di sini juga kita bisa kembali ke langkah pertama untuk melakukan perubahan atau penyesuaian jika ada dari bagian program yang perlu dirubah. Misalnya jika ternyata kurikulum matematika yang kita pilih ternyata kurang efektif untuk mencapai target kita.

Perkembangan-perkembangan yang perlu diperhatikan adalah :
1.    Perkembangan kata dan kalimat
Kata-kata pertama adalah kata-kata lisan pertama yang diucapkan oleh seorang anak setelah mampu bicara atau berkomunikasi dengan orang lain. Kata-kata pertama merupakan cara seorang anak untuk menyampaikan pesan kepada orang lain, dan biasanya dianggap sebagai proses perkembangan bahasa yang dipengaruhi oleh kematangan kognitif. Kematangan kognitif tersebut biasanya ditandai dengan kemampuan anak untuk merangkai susuan kata dalam berbicara baik dengan orang tua atau orang lain. Kemampuan ini akan terus berkembang jika anak sering berkomunikasi ataupun berinteraksi dengan orang lain.

2.    Perkembangan awal Bahasa
Sebelum mampu berbicara umumnya seorang anak memiliki perilaku untuk mengeluarkan suara-suara yang bersifat sederhana kemudian berkembang secara kompleks dan mengandung arti. Misalnya seorang anak menangis ( crying ), mendekut ( cooing ), mengoceh ( babling ), kemudian dia akan mampu menirukan kata- kata yang didengar dari orang tua ( lingkungan sekitarnya ), seperti kata mama, papa, makan, minum dan sebagainya.

Perkembangan fisik sangat berkaitan erat dengan perkembangan motorik anak. Motorik merupakan perkembangan pengendalian gerakan tubuh melalui kegiatan yang terkoordinir antara susunan saraf, otot, otak, dan spinal cord. Perkembangan motorik meliputi motorik kasar dan halus.

Pembelajaran sains untuk anak usia dini difokuskan pada pembelajaran mengenai diri sendiri, alam sekitar dan gejala alam. Pembelajaran Sains pada anak usia dini memiliki beberapa tujuan, diantaranya yaitu : 1. Membantu pemahaman anak tentang konsep sains dan keterkaitannya dengan kehidupan sehari-hari. 2. Membantu menumbuhkan minat pada anak usia dini untuk mengenal dan memperlajari benda-benda serta kejadian di lingkungan sekitarnya. 3. Membantu anak agar mampu menerapkan berbagai konsep sains untuk menjelaskan gejala-gejala alam san memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. 4. Membantu anak usia dini untuk dapat mengenal dan memupuk rasa cinta kepada alam sekitar sehingga menyadari keagungan Tuhan Yang Maha Esa.

0 komentar:

Poskan Komentar